Waspada Komplikasi Diabetes Pada Anak. Bagaimana Mendiagnosa Sejak Dini Diabetes Anak?

Diabetes merupakan salah satu penyakit dengan resiko kematian yang tinggi, bahkan berada di urutan keempat setelah kanker, jantung dan stroke. Istilah Diabetes Mellitus didapat dari kata Yunani yaitu Diabetes yang berarti pancuran, dan bahasa Latin Mellitus yang berarti manis. Jika diterjemahkan, Diabetes Mellitus artinya adalah pancuran manis, yang mengacu kepada urine yang dihasilkan penderita yang mengandung kadar gula yang tinggi. Itulah sebabnya disini penyakit diabetes dikenal dengan nama penyakit kencing manis, karena air seni penderita memang sering dikerumuni semut berkat tingginya kadar gula dalam urine tersebut. Dewasa ini penyakit diabetes tidak hanya menyerang orang dewasa, melainkan juga anak anak.

Bagaimana gejala yang bisa diamati?

Pada prinsipnya, gejala diabetes terutama Tipe 1 yang bisa diamati adalah sama antara penderita dewasa dengan anak-anak, yaitu dengan mengamati gejala klinis berupa 3P dan apabila kadar gula darah mencapai 200mg/dl dari yang seharusnya hanya berkisar pada angka 70-100 mg/dl:

  • Polifagi, adalah kondisi dimana anak sering makan karena ia mengalami rasa lapar yang berulang – ulang. Rasa lapar ini disebabkan karena tidak adanya insulin dalam jumlah yang cukup di dalam tubuh sehingga gula tidak bisa diolah menjadi energi. Akibatnya organ tubuh akan mengalami kelelahan dan memicu rasa lapar yang terus menerus.
  • Polidipsi, atau banyak minum terjadi karena tubuh kekurangan cairan akibat minimnya produksi insulin tersebut yang membuat kelebihan gula dalam aliran darah, sehingga cairan tubuh akan ditarik ke jaringan tubuh lain. Proses tersebut akan membuat anak sering haus dan banyak minum, lebih dari biasanya.
  • Poliuria, Yaitu kondisi dimana anak sangat sering buang air kecil karena banyak minum, melebihi frekuensi buang air kecil yang biasa.
  • Mudah letih dan lesu karena sel-selnya minim asupan gula
  • Luka yang sukar sembuh
  • Penglihatan anak yang kabur
  • Sering kesemutan
  • Kehilangan berat badan walaupun banyak makan
  • Infeksi jamur terutama pada anak perempuan
  • Perilaku yang berubah, anak mudah marah dan emosinya tidak stabil
  • Dan gejala khusus pada anak di atas 3-4 tahun yaitu mengompol
  • Muntah dan sakit pada perut
  • Nafas berbau asam
  • Lambung terasa nyeri
  • Tidak fokus atau susah berkonsentrasi

Bagaimana mendiagnosa Diabetes Pada Anak ?

Ketika seorang anak telah didiagnosa menderita diabetes, biasanya salah satu faktor penentu diagnosa adalah kadar gula darah puasa atau tidak mendapat asupan kalori selama sekitar delapan sampai sepuluh jam adalah 100 mg/dl, atau diatas ambang normal. Sedangkan jumlah gula darah sewaktu atau setelah tidak berpuasa sebesar 140 mg/dl. Untuk anak yang sudah didiagnosa menderitan diabetes tipe 1 wajib melakukan pemeriksaan hemoglobin terglikasi atau HbAc1 setiap tiga bulan sekali. Hasil tes hemoglobin yang bagus adalah dibawah 8% sama dengan anak normal. Jika diatas 8% akan ada bahaya komplikasi.

Terapi Insulin

Penderita diabetes tipe 1 harus mendapatkan terapi insulin yang bisa dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, dengan pemberian cairan untuk mengembalikan keseimbangan asam dan basa dalam tubuh, elektrolit dan juga pemberian insulin. Tahap kedua yaitu tahap transisi yang bertujuan mengatasi faktor-faktor pencetus diabetes, penormalan kadar insulin, penyusunan diet, dan juga edukasi pada orang tua. Fase ketiga dan terakhir yaitu tujuannya untuk mempertahankan status metabolik anak dalam batas normal. Semuanya disesuaikan dengan kebiasaan dan apa yang dibutuhkan oleh tubuh anak. Bagi penderita diabetes tipe 2, pengobatan akan tergantung pada seberapa jauh penyakit tersebut telah berkembang. Pada fase yang masih sangat awal, kemungkinan akan bisa diatasi dengan perubahan pola hidup yang lebih sesuai untuk penyakitnya.

Waspada Komplikasi Diabetes Pada Anak

Anak yang menderita diabetes dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang akut dan kronis apabila tidak ditangani dengan benar. Macam komplikasi yang bisa diderita anak adalah:

1. Komplikasi Akut

Yang termasuk ke dalam komplikasi akut adalah:

  • Hiperglikemia, yaitu kondisi dimana penyakit belum diobati sehingga kadar gula darah dalam tubuh sangat tinggi dan bisa menyebabkan anak selalu lapar, sering buang air kecil, mengalami dehidrasi, kejang, lemah, penurunan kesadaran bahkan bisa berakibat kematian mendadak. Hiperglikemia bisa terjadi pada anak yang penyakit diabetesnya belum terdeteksi.
  • Hipoglikemia yaitu kondisi yang terjadi karena kadar gula darah dalam tubuh anak mengalami penurunan. Bisa juga karena penggunaan insulin yang berlebihan, kurang atau terlambat makan, terlalu lelah sehingga tenaga terkuras. Akibatnya bisa berupa sikap emosional pada anak, lelah, berkeringat dingin, pingsan, mengalami kerusakan sel otak permanen yang akan mengganggu proses tumbuh kembangnya.
  • Ketoasidosis yaitu keadaan ketika kadar gula darah meningkat tidak terkendali sehingga terbentuk zat sampingan bernama keton di dalam tubuh anak. Keton akan menyebabkan darah menjadi asam dan meracuni otak sehingga kesadaran pasien menghilang. Gejala anak yang mengalami ketoasidosis adalah adanya keton dalam urine, mudah mengantuk, nafas berbau asam atau berbau aseton, dan sesak nafas. Jika tidak segera diobati, komplikasi ini akan menyebabkan koma bahkan kematian.

2. Komplikasi Kronis

Komplikasi kronis yang dialami anak penderita diabetes akan terjadi pada jangka panjang, bisa berupa kelainan pembuluh darah besar di otak dan jantung, juga kelainan pembuluh darah kecil pada mata, ginjal dan serabut saraf. Biasanya setelah anak remaja bisa terjadi komplikasi berupa penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan juga resiko kematian di usia muda.

  • Penyakit Jantung. Anak dengan diabetes tipe 1 yang memiliki berat badan berlebih akan memiliki resiko untuk terkena penyakit jantung jika tidak diobati sejak dini. Walaupun anak tanpa diabetes yang kelebihan berat badan juga dapat memiliki resiko yang sama, namun pada anak yang mengidap diabetes tipe 1 resikonya akan lebih besar.
  • Katarak. Biasanya penyakit mata ini terjadi pada orang tua, namun komplikasi pada anak-anak yang mengidap diabetes juga bisa terjadi. Pada anak-anak, disebut badai salju katarak karena tampilannya jika dilihat melalui opthalmoskop akan tampak seperti salju. Katarak pada anak bisa dihilangkan, namun penglihatan anak tidak akan bisa kembali seperti semula. Tidak hanya katarak, namun berbagai gangguan mata seperti glaukoma dan lainnya juga bisa terjadi.
  • Kandidiasis. Dikenal juga dengan infeksi jamur, penyakit ini biasanya menyerang area genitalia karena tingkat gula darah yang tinggi pada air seni menyebabkan tumbuhnya jamur di area tersebut. Biasanya penyakit ini diobati dengan salep khusus untuk jamur. Infeksi akan berhenti apabila gula darah bisa dikontrol.
  • Gagal Ginjal. Kontrol gula darah yang kurang maksimal akan menyebabkan jumlah besar glukosa dalam kandung kemih yang bisa menyebabkan infeksi pada kandung kemih sampai ke ginjal. Untuk mengetahui adanya infeksi atau tidak, anak yang mengidap diabetes sebaiknya melakukan tes untuk melihat apakah ada albumin dalam urinenya.
  • Epilepsi. Kondisi hipoglikemia berat bisa dialami oleh anak-anak sehingga hilang kesadaran selama berjam-jam dan jika kondisi ini dialaminya secara berulang maka anak bisa beresiko mengalami epilepsi.
  • Rambut Rontok. Anak dengan diabetes bisa mengalami kerontokan rambut akibat gejala ketoasidosis dan kekurangan hormon tiroid. Gejala kekurangan hormon tiroid biasanya berupa kenaikan berat badan, perlambatan mental, dan tubuh tidak bisa tetap hangat.
  • Koma. Ada dua keadaan kehilangan kesadaran atau koma yang dapat terjadi pada anak dengan penyakit diabetes, yaitu koma insulin dimana keadaan ini terjadi ketika anak mengalami hipoglikemia secara ekstrem dan berulang-ulang. Sedangkan koma diabetik yaitu jika anak mengalami hiperglikemia secara ekstrem dan berulang.

Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

Peran orang tua dalam membantu mengontrol penyakit diabetes anak tentu saja sangat besar. Banyak hal yang penting yang harus dilakukan orang tua untuk memastikan penyakit anak terkendali dengan baik. Orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Menjaga kadar gula darah anak tetap stabil, tidak naik ataupun turun. Orang tua harus mengerti bahwa anak dengan diabetes mempunyai pembatasan diet yang ketat dan tingkat aktivitas anak harus dimonitor dengan seksama.
  • Seiring waktu, diabetes dapat menjadi satu penyakit yang kronis. Pasien dan keluarga seharusnya mencari dukungan yang dibutuhkan.
  • Orang tua juga harus jeli dan dapat mengenali tanda-tanda atau gejala gula darah rendah atau ketoacidosis, serta juga harus mengetahui apa yang harus dilakukan bila gejala-gejala ini muncul.
  • Ajari anak untuk dapat mengontrol atau memonitor kadar gula darahnya sendiri dan juga bagaimana menangani suntikan insulin mereka jika anak sudah lebih tua.
  • Pastikan orang lain tahu jika anak memiliki penyakit diabetes, agar mereka juga dapat memberikan pertolongan pertama pada anak jika gejala komplikasi menyerang. Misalnya, guru di sekolah anak, keluarga lain, dan orang tua juga dapat memberikan semacam tanda untuk dibawa-bawa oleh anak yang menunjukkan penyakitnya.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengontrol kadar gula darah anak.
  • Bantu anak untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan jangan sampai mengalami obesitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *