Spondiloarthritis: Bukan Sekadar Nyeri Punggung Biasa, Kenali Gejala, Diagnosis, dan Terapinya

Halo SobatSehat!

Apakah SobatSehat atau kerabat sering mengeluhkan nyeri punggung kronis yang tak kunjung sembuh? Banyak dari kita mungkin menganggapnya sebagai "sakit pinggang biasa" akibat salah posisi tidur atau kelelahan bekerja. Namun, jika nyeri punggung itu terasa lebih buruk di pagi hari dan justru membaik setelah Anda beraktivitas, ini mungkin pertanda kondisi yang lebih serius: Spondiloarthritis.

blank

Ilustrasi Spondiloarthritis

Penyakit ini seringkali 'tersembunyi' dan diagnosisnya terlambat. Padahal, penanganan dini sangat krusial untuk mencegah kerusakan sendi permanen.

Di BincangSehat.com kali ini, kita akan mengupas tuntas seluk-beluk Spondiloarthritis, mulai dari pengertian, gejala, cara diagnosis, hingga Terapi Spondiloarthritis modern dan Diet Pasien SpA yang dianjurkan. Mari kita simak bersama.

Apa Itu Spondiloarthritis (SpA)?

Spondiloarthritis (disingkat SpA) bukanlah satu penyakit tunggal. Ini adalah nama untuk sekelompok penyakit reumatik inflamasi (peradangan) yang memiliki karakteristik serupa. Berbeda dengan Osteoarthritis yang disebabkan oleh aus atau kerusakan mekanis, SpA adalah penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehatnya sendiri.

Target utama dari Spondiloarthritis adalah enthesis, yaitu titik di mana ligamen dan tendon menempel pada tulang. Lokasi yang paling sering terkena adalah tulang belakang dan sendi sakroiliaka (sendi yang menghubungkan tulang panggul dengan bagian bawah tulang belakang).

Berdasarkan panduan dari organisasi reumatologi terkemuka seperti EULAR (European Alliance of Associations for Rheumatology) dan IRA (Indonesian Rheumatology Association), SpA secara umum dibagi menjadi dua kategori besar:

  1. Axial Spondyloarthritis (AxSpA): Peradangan dominan terjadi pada tulang belakang dan sendi sakroiliaka.
    • Ankylosing Spondylitis (AS): Ini adalah AxSpA di mana kerusakan pada sendi sakroiliaka sudah terlihat jelas pada hasil Rontgen (X-ray). Pada kasus lanjut, peradangan ini dapat menyebabkan pembentukan tulang baru, membuat tulang belakang menyatu (dikenal sebagai "bamboo spine"), sehingga menjadi kaku dan tidak fleksibel.
    • Non-radiographic AxSpA (nr-AxSpA): Pasien memiliki gejala AxSpA yang khas, namun hasil Rontgen masih terlihat normal. Peradangan aktif biasanya hanya bisa dideteksi melalui MRI.
  2. Peripheral Spondyloarthritis (pSpA): Peradangan dominan terjadi pada sendi-sendi di luar tulang belakang (sendi perifer), seperti di tangan, lutut, atau kaki. Ini juga bisa mencakup peradangan pada jari (daktilitis) atau enthesitis (misalnya, di tumit).

Jenis SpA lainnya yang terkait erat meliputi:

  • Artritis Psoriatik (Psoriatic Arthritis)
  • Artritis Reaktif (Reactive Arthritis)
  • Artritis terkait Penyakit Radang Usus (IBD-associated Arthritis)

Gejala Spondiloarthritis: Sinyal yang Harus Diwaspadai

Gejala SpA bisa sangat bervariasi antar individu. Namun, ada satu gejala kunci yang menjadi ciri khas utama AxSpA, yang disebut Nyeri Punggung Inflamasi (Inflammatory Back Pain - IBP).

Bagaimana membedakannya dengan nyeri punggung mekanis (salah urat)?

Ciri Khas Nyeri Punggung Inflamasi (IBP):

  • Usia Awitan: Biasanya muncul perlahan sebelum usia 45 tahun.
  • Durasi: Nyeri bersifat kronis (berlangsung lebih dari 3 bulan).
  • Pola Nyeri: Terasa lebih buruk pada pagi hari (kaku pagi) atau setelah lama beristirahat/tidak aktif.
  • Respons terhadap Aktivitas: Nyeri justru membaik dengan bergerak atau berolahraga, dan memburuk saat istirahat.
  • Nyeri Malam Hari: Seringkali membangunkan pasien dari tidur, terutama pada paruh kedua malam.

Selain nyeri punggung, SobatSehat juga perlu mewaspadai gejala lain dari Spondiloarthritis:

  • Artritis Perifer: Bengkak, nyeri, dan kaku pada sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, atau pinggul.
  • Enthesitis: Nyeri akibat peradangan pada enthesis. Lokasi paling umum adalah di bagian belakang tumit (tendon Achilles) atau di telapak kaki (plantar fasciitis).
  • Daktilitis: Peradangan pada seluruh jari tangan atau kaki, membuatnya bengkak menyerupai sosis ("sausage digits").
  • Kelelahan (Fatigue): Rasa lelah ekstrem yang tidak sebanding dengan aktivitas fisik dan tidak hilang dengan istirahat.

SpA juga bisa menyerang organ lain di luar sendi (manifestasi ekstra-artikular), seperti:

  • Uveitis: Peradangan pada mata (mata merah, nyeri, sensitif cahaya, penglihatan kabur). Ini adalah kondisi darurat yang memerlukan penanganan dokter mata.
  • Psoriasis: Bercak kulit kemerahan, bersisik, dan menebal.
  • Penyakit Radang Usus (IBD): Gejala seperti diare kronis, nyeri perut, atau adanya darah pada tinja.

Tantangan Diagnosis: Menemukan 'Musuh' yang Tersembunyi

Mendiagnosis SpA, terutama nr-AxSpA, seringkali memakan waktu bertahun-tahun (disebut diagnostic delay). Ini karena gejalanya sering disalahartikan sebagai masalah punggung biasa.

Tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosis SpA. Seorang dokter spesialis Reumatologi akan menegakkan diagnosis berdasarkan kombinasi dari:

  1. Anamnesis (Wawancara Medis): Dokter akan menggali secara detail riwayat gejala SobatSehat, terutama pola nyeri punggung (IBP), riwayat keluarga dengan penyakit serupa, dan ada tidaknya gejala di luar sendi.
  2. Pemeriksaan Fisik: Dokter akan memeriksa mobilitas tulang belakang (misalnya dengan tes Schober), menekan titik-titik sendi sakroiliaka dan enthesis untuk mencari nyeri, serta memeriksa sendi perifer.
  3. Tes Laboratorium:
    • Penanda Inflamasi: Tes darah seperti Laju Endap Darah (LED/ESR) dan C-Reactive Protein (CRP). Keduanya bisa meningkat saat terjadi peradangan, namun bisa juga normal pada sebagian pasien SpA.
    • Penanda Genetik (HLA-B27): Ini adalah tes genetik. Sekitar 80-90% pasien Ankylosing Spondylitis memiliki gen HLA-B27. Namun, penting diingat: memiliki gen ini BUKAN berarti pasti menderita SpA. Banyak orang sehat juga memilikinya. Tes ini hanya bersifat suportif jika gejala lain sangat mendukung.
  4. Pencitraan (Imaging):
    • Rontgen (X-ray): Digunakan untuk melihat sendi sakroiliaka dan tulang belakang. Pada tahap awal (nr-AxSpA), Rontgen mungkin normal. Pada tahap lanjut (AS), akan terlihat adanya kerusakan, erosi, atau penyatuan sendi (sakroiliitis).
    • MRI (Magnetic Resonance Imaging): Ini adalah alat diagnostik terbaik untuk deteksi dini. MRI dapat "melihat" peradangan aktif (edema sumsum tulang) di sendi sakroiliaka dan tulang belakang, jauh sebelum kerusakan struktural terlihat di Rontgen.

Pilihan Terapi Spondiloarthritis (Terapi SpA)

Meskipun Spondiloarthritis belum bisa disembuhkan secara total, kabar baiknya adalah penyakit ini sangat bisa dikelola. Tujuan utama Terapi SpA, sesuai panduan EULAR dan IRA, adalah untuk mencapai "remisi" atau "aktivitas penyakit rendah".

Ini berarti:

  • Mengurangi atau menghilangkan peradangan.
  • Meredakan nyeri dan kaku.
  • Mempertahankan fungsi dan mobilitas tulang belakang serta sendi.
  • Mencegah kerusakan struktural jangka panjang (penyatuan tulang).
  • Meningkatkan kualitas hidup SobatSehat.

Manajemen Terapi Spondiloarthritis bersifat komprehensif, menggabungkan terapi non-obat dan obat-obatan.

1. Terapi Non-Farmakologis (Wajib!)

Ini adalah pilar utama Terapi SpA:

  • Edukasi Pasien: SobatSehat harus memahami penyakitnya, pentingnya kepatuhan berobat, dan manajemen gaya hidup.
  • Fisioterapi dan Olahraga: Ini adalah 'obat' yang tidak bisa ditawar. Latihan spesifik untuk SpA berfokus pada mobilitas (kelenturan) tulang belakang, penguatan otot inti (core muscle), dan postur. Olahraga seperti berenang dan tai chi sangat direkomendasikan. Latihan harus dilakukan secara teratur dan seumur hidup.
  • Berhenti Merokok: Merokok terbukti memperburuk aktivitas penyakit SpA, mempercepat kerusakan struktural, dan mengurangi efektivitas obat-obatan.

2. Terapi Farmakologis (Obat-obatan)

Pilihan obat akan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan lokasi gejala (aksial atau perifer).

  • Lini Pertama: Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS/NSAID):
    • Ini adalah obat andalan pertama untuk AxSpA. Contohnya seperti Naproxen, Ibuprofen, atau Celecoxib.
    • Tujuannya adalah mengurangi peradangan dan nyeri. Seringkali, dokter akan meresepkan dosis penuh dan diminum secara kontinu (bukan hanya 'jika perlu') untuk menekan peradangan secara optimal.
  • Lini Kedua: DMARDs Konvensional (csDMARDs):
    • Contohnya Sulfasalazine atau Methotrexate.
    • Obat ini tidak efektif untuk gejala tulang belakang (aksial). Namun, obat ini sering digunakan jika pasien memiliki gejala dominan di sendi perifer (lutut, pergelangan kaki).
  • Lini Ketiga: DMARDs Biologis (bDMARDs):
    • Ini adalah terobosan dalam Terapi SpA, terutama bagi mereka yang tidak merespon OAINS (untuk gejala aksial) atau csDMARDs (untuk gejala perifer).
    • Obat ini menargetkan molekul spesifik dalam sistem kekebalan yang menyebabkan peradangan.
    • Jenisnya meliputi:
      • Penghambat TNF (TNF Inhibitor): (misalnya Adalimumab, Golimumab, Infliximab, Etanercept).
      • Penghambat IL-17 (IL-17 Inhibitor): (misalnya Secukinumab, Ixekizumab).
  • DMARDs Sintetik Tertarget (tsDMARDs):
    • Ini adalah kelas obat yang lebih baru dalam bentuk tablet (oral).
    • Penghambat JAK (JAK Inhibitor): (misalnya Tofacitinib, Upadacitinib). Obat ini juga sangat efektif untuk mengontrol SpA.
  • Terapi Lokal: Suntikan kortikosteroid dapat diberikan langsung ke sendi yang meradang (misalnya lutut) atau enthesis (misalnya tumit) untuk meredakan peradangan lokal.

Makanan yang Harus Dihindari: Fokus pada Diet Pasien SpA

Meskipun tidak ada "diet ajaib" yang ditetapkan secara resmi oleh EULAR atau IRA untuk menyembuhkan SpA, pola makan memainkan peran penting dalam mengelola peradangan sistemik.

Prinsip utamanya adalah mengadopsi pola makan anti-inflamasi. Berikut adalah beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari atau dibatasi dalam Diet Pasien SpA karena berpotensi memicu peradangan:

  1. Gula dan Karbohidrat Olahan:
    • Minuman manis (soda, jus kemasan), kue kering, permen, dan roti putih.
    • Gula berlebih dapat memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi.
  2. Lemak Jenuh dan Lemak Trans:
    • Ditemukan dalam daging merah berlemak, jeroan, mentega, dan makanan cepat saji (fast food).
    • Lemak trans (minyak terhidrogenasi parsial) ada di banyak makanan olahan, margarin, dan gorengan.
  3. Makanan yang Diproses Tinggi (Ultra-Processed Foods):
    • Sosis, nugget, makanan kaleng, dan makanan ringan dalam kemasan. Makanan ini seringkali tinggi gula, garam, lemak jahat, dan zat aditif yang dapat memperburuk peradangan.
  4. Alkohol Berlebih:
    • Alkohol dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus dan meningkatkan peradangan.

Sebaliknya, Diet Pasien SpA sebaiknya fokus pada:

  • Ikan Berlemak: Salmon, kembung, sarden (kaya Omega-3 yang anti-inflamasi).
  • Sayuran Hijau: Bayam, brokoli, kangkung.
  • Buah-buahan: Terutama beri-berian (stroberi, blueberry) yang kaya antioksidan.
  • Lemak Sehat: Minyak zaitun (extra virgin), alpukat, dan kacang-kacangan.
  • Biji-bijian Utuh (Whole Grains): Beras merah, oatmeal.

Kesimpulan: Ambil Langkah Cepat

SobatSehat, Spondiloarthritis adalah kondisi kronis yang serius, namun bukan berarti akhir dari kehidupan aktif Anda. Penyakit ini lebih dari sekadar nyeri punggung. Ia adalah penyakit sistemik yang membutuhkan diagnosis tepat dan manajemen jangka panjang.

Jika SobatSehat mengalami gejala nyeri punggung inflamasi (IBP) seperti yang telah dijelaskan, jangan tunda lagi. Segera konsultasikan dengan dokter, dan jika perlu, mintalah rujukan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi (Sp.PD-KR).

Dengan diagnosis dini, kepatuhan pada Terapi Spondiloarthritis (baik obat maupun fisioterapi), serta penyesuaian gaya hidup sehat termasuk Diet Pasien SpA, Anda dapat mengontrol peradangan, mencegah kerusakan sendi, dan tetap produktif menjalani hidup.

Salam sehat!

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk keperluan informasi dan edukasi. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran medis profesional, diagnosis, atau pengobatan. Selalu cari saran dari dokter atau penyedia layanan kesehatan lain yang berkualifikasi dengan pertanyaan apa pun yang mungkin Anda miliki tentang kondisi medis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *